Toyota Motor
Corporation (TMC), adalah sebuah pabrikan mobil yang berasal dari Jepang, yang
berpusat di Toyota, Aichi. Saat ini, Toyota merupakan pabrikan penghasil mobil
terbesar di dunia.
Di samping memproduksi
mobil, Toyota juga memberikan pelayanan finansial, dan juga mebuat robot. TMC
merupakan anggota dari Grup Toyota dan memproduksi mobil dengan merek Toyota
Lexus dan Scion, memiliki sebagian besar saham dari Daihatsu dan Hino,dan
memiliki sebagian kecil saham Subaru dan Isuzu.
Toyota merupakan
pabrikan mobil terbesar di dunia dalam unit sales dan net sales. Pabrikan
terbesar di Jepang ini menghasilkan 8-8,5 juta unit mobil di seluruh dunia tiap
tahunnya.
Dibandingkan dengan
industri-industri otomotif lain yang menggunakan nama pendirinya sebagai merek
dagang seperti Honda yang didirikan oleh Soichiro Honda, Daimler-Benz (Gottlieb
Daimler dan Karl Benz), Ford (Henry Ford), nama Toyoda tidaklah dipakai sebagai
merek. Karena berangkat dari pemikiran sederhana dan visi waktu itu, penyebutan
Toyoda kurang enak didengar dan tidak akrab dikenal sehingga diplesetkan
menjadi Toyota.
Ketika Toyota Terpuruk
29 Januari 2009,
Toyota menarik 1.37 juta mobil terkait permasalahan dengan sabuk pengaman dan
knalpot; 24 Agustus 2009, Toyota menarik 688.000 kendaraan di China karena
bermasalah dengan kelistrikan; 9 Februari 2010, Toyota menarik mobil jenis
hibrida ‘Pirus’ yang berjumlah 270.000 unit.
Aiko Toyoda sebagai
cucu dari kiichiro Toyoda sekaligus sebagai CEO saat itu sedang mengalami
kesulitan yang membuat perusahaan otomotif besar tersebut hampir bangkrut.
Toyota memang tengah didera masalah terberat yang pernah ada dalam sejarah
panjang 70 tahun kehidupannya. Di Amerika dan Kanada, pasar mobil terbesar
didunia dan juga bagi Toyota, perusahaan ini harus menarik ulang jutaan
mobilnya yang laris, termasuk Prius, Camry dan Corolla. Ada sejumlah masalah
serius dengan pedal gas-nya. Berita itu sungguh terasa mengejutkan. Bagaimana
mungkin Toyota, sebuah simbol kualitas dalam industri mobil dunia, bisa
meloloskan begitu banyak mobil dengan mutu yang amat memilukan? Bagaimana
mungkin perusahaan yang selama ini memiliki reputasi yang begitu wangi bisa
terpelanting dalam tragedi kegagalan produk yang begitu masif? Ya kenapa semua
ini bisa terjadi?
Pada akhirnya
pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan tiga jawaban.
Jawaban pertama adalah
ini : tragedi Toyota ini tak lain tak bukan adalah buah kesuksesan Toyota
sendiri. Dengan kata lain, Toyota sejatinya hanya menjadi korban dari
pertumbuhan bisnis yang terlalu cepat ia alami. Dalam lima tahun terakhir ini
dunia memang tercengang dengan pertumbuhan penjualan mobil Toyota di seluruh
dunia, terutama di pasar Amerika. Apalagi ketika tahun lalu General Motor —
produsen utama mobil di Amerika – kolaps. Kejadian ini langsung melejitkan
produksi mobil Toyota ke peringkat satu dunia.
Namun ternyata Toyota
belum siap menjadi nomer satu. Toyota merasa gamang. Pertumbuhan bisnis yang
terlalu pesat itu membuat sistem produksi global Toyota gelagapan. Memang pihak
Toyota dengan cepat membangun banyak pabrik mobil di Amerika untuk mengimbangi
permintaan pasar yang terus tumbuh dengan pesat. Namun membangun pabrik dengan
terlalu cepat demi memenuhi permintaan pasar yang terus tumbuh ternyata membuat
banyak lubang disana-sini; dan persis disinilah tragedi kegagalan mutu itu
mulai terjadi.
Jawaban kedua
berkaitan dengan yang pertama : ketika memutuskan membangun banyak pabrik mobil
di Amerika, pihak top manajemen di Jepang sadar bahwa itu harus segera
diimbangi dengan penyiapan SDM yang tangguh. Begitulah, mereka lalu mengirim
ratusan teknisi terbaiknya untuk mengajari para pekerja Amerika tentang sistem
produksi dan filosofi mutu Toyota yang amat terkenal itu.
Namun mengajari konsep
budaya mutu Toyota kepada para pekerja Amerika itu tidak bisa selesai dalam
sekejap. Sementara tuntutan kecepatan produksi terus menyergap. Akibatnya bisa
ditebak : ditangan para pekerja Amerika yang belum sepenuhnya mahir, maka
konsep mutu Toyota yang legendaris itu ibarat macan yang terluka.
Jawaban terakhir
adalah ini : strategi cost efficiency yang terlalu agresif. Harap diketahui,
tiga tahun terakhir ini pihak top manajemen Toyota di Jepang memang
mengkampanyekan strategi penghematan biaya di semua lini, termasuk dalam aspek
desain dan produksi. Strategi ini sejatinya bagus buat mengendalikan biaya,
namun tampaknya top management Toyota agak kebablasan. Beberapa waktu sebelum
tragedi penarikan mobil itu, sebenarnya sejumlah supplier sudah mengeluh.
Mereka bilang kadang terpaksa menurunkan mutu barang pasokannya demi memenuhi
seruan cost efficency dari para petinggi Toyota di Jepang.
Jawaban yang terakhir
ini membawa pesan yang sederhana namun lugas : penghematan biaya memang bagus,
namun jika terlalu agresif dilakukan maka mutu produk selalu akan menjadi
korban. Dan jika itu terjadi, dampaknya bisa terasa amat menyakitkan, persis
seperti yang dialami Toyota hari-hari ini.
14 Prinsip Toyota dalam mengelola strateginya:
Prinsip 1. Ambil keputusan manajerial Anda berdasarkan filosofi
jangka panjang, meskipun mengorbankan sasaran keuangan jangka pendek.
·
Miliki misi filosofis yang menggantikan
pengambilan keputusan jangka pendek. Bekerja, tumbuh, dan selaraskan seluruh
organiasasi untuk mencapai sasaran bersama yang lebih besar dari sekedar
menghasilkan uang. Pahami tempat Anda dalam sejarah perusahaan dan bekerja
untuk membawa perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi. Misi filosofis Anda
merupakan dasar bagi semua prinsip-prinsip lainnya.
·
Ciptakan nilai bagi pelanggan, masyarakat, dan
perekonomian–ini adalah titik awal Anda. Evaluasi kemampuan setiap fungsi dalam
perusahaan untuk meraih hal ini.
·
Bertanggung jawablah. Usahakan memutuskan nasib
Anda sendiri. Bertindak secara mandiri dan percaya pada kemampuan Anda sendiri.
Terima tanggung jawab atas tindakan Anda dan pelihara dan tingkatkan
keterampilan yang memungkinkan Anda menambah nilai.
Prinsip 2. Ciptakan proses yang mengalir secara kontinu ntuk
mengangkat permasalahan ke permukaan.
·
Desain ulang proses kerja agar mengalir secara
kontinu dan memberi nilai tambah yang tinggi. Usahakan untuk menghilangkan
waktu kosong (idle) dalam setiap proses kerja atau menunggu
seseorang untuk mengerjakannya.
·
Ciptakan aliran untuk menggerakkan material dan
informasi dengan cepat serta mengaitkan proses dan orang agar menjadi satu
kesatuan sehingga masalah dapat segera diangkat ke permukaan.
·
Buat proses yang mengalir menjadi kenyataan
sebagai bagian budaya organisasi Anda. Ini adalah kunci untuk peningkatan
berkesinambungan yang sebenar-benarnya dan untuk pengembangan karyawan.
Prinsip 3. Gunakan sistem “tarik” untuk menghindari produksi
berlebih.
·
Beri pelanggan pada proses berikutnya dalam
proses produksi dengan apa yang mereka inginkan, pada saat yang mereka
inginkan, dan dalam jumlah yang mereka inginkan. Pengisian kembali material
yang dipicu oleh pemakaian adalah prinsip Just-in Time.
·
Minimalkan barang dalam proses (WIP) Anda dan
gudang persediaan dengan menyimpan sejumlah kecil dari masing-masing produk dan
dengan sering mengisi ulang berdasarkan apa yang benar-benar diambil oleh
pelanggan.
·
Tanggap terhadap pergeseran permintaan
pelanggan dari hari ke hari daripada bergantung pada skedul komputer dan sistem
untuk menelusuri persediaan yang mubazir.
Prinsip 4. Ratakan beban kerja (heijunka). (Bekerjalah
seperti kura-kura dan tidak seperti kelinci).
·
Menghilangkan pemborosan hanya merupakan
sepertiga dari persamaan untuk membuat lean berhasil. Menghilangkan kelebihan
beban dari orang dan peralatan dan menghilangkan ketidakrataan dalam jadwal
produksi juga sama pentingnya–tapi hal ini biasanya tidak dipahami oleh
perusahaan-perusahaan yang berusaha untuk mengimplementasikan
prinsip-prinsip lean.
·
Bekerja untuk meratakan beban kerja dari semua
proses manufaktur dan jasa sebagai cara alternatif dari pendekatan berhenti/
jalan dalam mengerjakan proyek dalam batch yang umumnya masih terjadi di
sebagian besar perusahaan.
Prinsip 5. Bangun budaya berhenti untuk memperbaiki masalah dan
untuk memperoleh kualitas yang baik sejak awal.
·
Kualitas bagi pelanggan menentukan value
proposition Anda.
·
Gunakan semua metode modern yang ada untuk
penjaminan kualitas.
·
Bangun kemampuan untuk mendeteksi masalah dan
untuk menghentikan dirinya sendiri ke dalam peralatan Anda. Kembangkan sistem
visual untuk mengingatkan tim atau pemimpin tim bahwa ada mesin atau proses
yang memerlukan bantuan. Jidoka (mesin
dengan intelegensi manusia) merupakan fondasi dalam “membangun”kualitas.
·
Bangun sistem pendukung dalam organisasi Anda
untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan melaksanakan penanggulangannya.
·
Bangun ke dalam budaya Anda filosofi untuk
menghentikan atau memperlambat untuk memperoleh kualitas yang benar sejak awal
dalam rangka meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang.
Prinsip 6. Standar kerja merupakan fondasi dari peningkatan
berkesinambungan dan pemberdayaan karyawan.
·
Gunakan metode berulang yang stabil di manapun
untuk mempertahankan kesamaan, keteraturan waktu, dan keteraturan hasil proses
Anda. Ini merupakan fondasi proses mengalir dan sistem tarik.
·
Tangkap pembelajaran mengenai suatu proses yang
terakumulasi hingga titik tertentu dengan menstandarisasikan praktik terbaik
saat ini. Perbolehkan ekspresi dan kreativitas individual untuk meningkatkan
standar tersebut, kemudian masukkan hal tersebut ke dalam standar baru sehingga
ketika seseorang pindah, anda dapat menyerahkan pembelajaran ke orang berikutnya.
Prinsip 7. Gunakan pengendalian visual agar tidak ada masalah
tersembunyi.
·
Gunakan indikator visual yang sederhana untuk
membantu orang menentukan dengan segera apakah mereka masih berada dalam
standar atau sudah menyimpang dari standar tersebut.
·
Hindari penggunaan layar komputer jika hal itu
mengalihkan perhatian pekerja dari tempat kerjanya.
·
Rancang sistem visual yang sederhana di tempat
di mana pekerjaan dilakukan, untuk mendukung proses mengalir dan sistem tarik.
·
Kurangi laporan Anda hingga menjadi satu lembar
kertas jika memungkinkan, sekalipun untuk keputusan finansial Anda yang paling
penting.
Prinsip 8. Gunakan hanya teknologi handal yang sudah benar-benar
teruji untuk membantu orang-orang dan proses Anda.
·
Gunakan teknologi untuk membantu orang, bukan
untuk menggatikan orang. Seringkali yang terbaik adalah memperbaiki suatu
proses secara manual sebelum menambahkan teknologi untuk mendukung proses.
·
Teknologi baru sering kali tidak dapat
diandalkan dan sulit distandarisasi dan oleh karena itu membahayakan “proses
mengalir”. Sebuah proses yang telah terbukti pada umumnya harus diutamakan dari
teknologi baru yang belum diuji.
·
Lakukan tes yang sebenarnya sebelum mengadopsi
teknologi baru ke dalam proses bisnis, sistem manufaktur, atau produk.
·
Tolak atau modifikasi teknologi yang
bertentangan dengan budaya Anda atau yang mungkin mengganggu stabilitas,
keandalan, dan prediktabilitas.
·
Meskipun demikian, dorong orang-orang Anda
untuk mempertimbangkan teknologi baru ketika mencari pendekatan baru dalam pekerjaan
mereka. Implementasikan dengan cepat teknologi yang telah benar-benar
dipertimbangkan jika telah dibuktikan melalui percobaan dan dapat meningkatkan
aliran dalam proses Anda.
Prinsip 9. Kembangkan pemimpin yang benar-benar memahami
pekerjaannya, menjiwai filosofi, dan mengajarkannya kepada orang lain.
·
Kembangkan pemimpin dari dalam organisasi, dan
bukan membeli mereka dari luar organisasi.
·
Jangan memandang pekerjaan seorang pemimpin
hanya sekedar menyelesaikan tugas dan memiliki keterampilan mengelola orang.
Pemimpin harus menjadi panutan dalam filosofi perusahaan dan cara melakukan
bisnis.
·
Seorang pemimpin yang baik harus memahami
pekerjaan sehari-hari secara detil sehingga dia dapat menjadi guru terbaik
untuk filosofi perusahaan Anda.
Prinsip 10. Kembangkan orang dan kelompok yang memiliki
kemampuan istimewa, yang menganut filosofi perusahaan Anda.
·
Ciptakan budaya yang kuat dan stabil di mana
nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan perusahaan dianut dan dijiwai selama
periode bertahun-tahun.
·
Latih individu dan kelompok yang memiliki
kemampuan istimewa untuk bekerja sesuai dengan filosofi perusahaan, untuk
mencapai hasil yang luar biasa. Bekerja dengan sangat keras untuk menanamkan
budaya secara terus-menerus.
·
Gunakan tim lintas-fungsi untuk meningkatkan
kualitas dan produktivitas serta meningkatkan aliran proses dengan
menyelesaikan masalah teknis yang sulit. Pemberdayaan muncul ketika orang menggunakan
alat-alat untuk meningkatkan perusahaan.
·
Prinsip 11. Hormati jaringan mitra dan pemasok Anda dengan
memberi tantangan dan membantu mereka melakukan peningkatan.
·
Hormati mitra dan pemasok Anda dan perlakukan
mereka seakan-akan perpanjangan dari bisnis Anda.
·
Beri tantangan pada mitra bisnis Anda agar
tumbuh dan berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa Anda menghargai mereka.
tetapkan target yang menantang dan bantulah mitra Anda mencapainya.
Prinsip 12. Pergi dan lihat sendiri untuk memahami situasi
sebenarnya (genchi genbutsu).
·
Selesaikan masalah dan tingkatkan proses dengan
datang ke sumber permasalahan dan secara pribadi mengamati dan meverifikasi
data dan bukan hanya berteori berdasarkan apa yang dikatakan orang lain atau
yang ditunjukkan di layar komputer.
·
Berpikirlah dan berbicaralah berdsarkan data
yang telah Anda veifikasi sendiri.
·
Bahkan para manajer dan eksekutif tingkat
tinggi harus pergi dan melihat sendiri masalah yang ada sehingga mereka akan
memiliki lebih dari sekedar pemahaman yang dangkal terhadap situasi.
Prinsip 13. Buat keputusan secara perlahan-lahan melalui
konsensus, pertimbangkan semua pilihan dengan seksama, kemudian implementasikan
keputusan itu dengan sangat cepat.
·
Jangan mengambil satu arah tunggal saja dan
menjalankan yang satu itu saja sebelum Anda mempertimbangkan seluruh alternatif
dengan seksama. Setelah Anda memilih, jalankan dengan cepat tapi hati-hati.
·
Nemawashi adalah proses untuk
membahas masalah dan potensi solusinya dengan semua pihak yang terkena dampak
oleh masalah tersebut, untuk mengumpulkan ide-ide dari mereka, dan untuk
mendapatkan persetujuan mengenai langkah mana yang perlu diambil. Proses
konsensus ini, meskipun menghabiskan banyak waktu, membantu memperluas
pencarian solusi, dan karena keputusan telah diambil, kondisi telah siap untuk
diimplementasikan dengan cepat.
Prinsip 14. Menjadi suatu organisasi pembelajar melalui refleksi
diri tanpa kompromi (hansei) dan peningkatan berkesinambungan (kaizen).
·
Setelah Anda mendapatkan proses yang stabil,
gunakan alat-alat peningkatan berkesinambungan untuk mencari akan penyebab
inefisiensi dan terapkan cara penanggulangan dengan efektif.
·
Rancang proses yang hampir tidak memerlukan
persediaan. Hal ini akan membuat waktu dan sumber daya yang disia-siakan
menjadi kelihatan jelas bagi semua orang. Ketika pemborosan terlihat, biarkan
karyawan menggunakanproses peningkatan berkesinambungan (kaizen)
untuk menghilangkannya.
·
Lindungi pengetahuan dasar organisasi dengan
mengembangkan personil tetap, promosi secara perlahan, dan sistem suksesi yang
sangat hati-hati.
·
Gunakan hansei (refleksi diri) pada tahap-tahap penting dan setelah
Anda menyelesaikan suatu proyek untuk secara terbuka mengidentifikasikan semua
kelemahan dari proyek itu. Kembangkan jalan keluar untuk menghindari kesalahan
yang sama.
·
Belajar dengan menstandarisasikan
praktik-praktik terbaik dan bukan hanya menemukan ulang hal yang sama dengan
setiap proyek baru dan setiap manajer baru. [Liker, 2006]
KAIZEN
Konsep
ini lebih jauh diartikan sebagai perbaikan terus menerus melalui perubahan
hal-hal kecil.
Dalam
perusahaan dapat diwujudkan dengan membuat suasana kerja lebih efektif dan
efisien dengan
menciptakan
atmosphire team, perbaikan prosedure setiap harinya, memberikan keyakinan
kepada
karyawan
akan kepuasan kerja dan membuat pekerjaan lebih menyenangkan.
Kaizen
prinsipnya memiliki dasar :
1.
Berorientasi pada proses dan hasil.
2.
Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
3.
Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di
lapangan.